Pemeran Pengganti

Bagi pecinta film, pastilah akrab dengan istilah pemeran pengganti. Seorang pemeran pengganti, rela dibayar segitu mahalnya hanya untuk menggantikan si aktor / aktris saat melakukan adegan yang berbahaya dan tidak enak, ataupun juga hal yang “berbahaya” – tanda kutip.

Hmmm, sekarang saya ajak kita untuk berpikir sedikit. Bagaimana jika tugasnya dibalik? Si aktor / aktris yang melakukan hal berbahaya, sedangkan si pemeran pengganti melakukan hal-hal yang enak? Bagaimana menurut Anda, mau atau tidak

Dari teman-teman yang saya tanya, 100% mereka menjawab tidak mau. Alasannya? Kita maunya yang enak-enak donk, biar si pemeran pengganti kebagian gak enaknya. Saya mau ajak kita semua untuk berpikir lebih dalam, apakah kita mempunyai stuntman rohani dalam kehidupan kita?

Liburan.

Bayangkan diri kita ini senang berlibur, kita pastinya tidak akan membayar orang lain untuk berlibur ke tempat yang kita mau dan kita hanya menunggu di tempat bekerja sampai orang tersebut kembali dan dia menceritakan kepada kita bukan?

PDKT.

pexels-photo-40525

Atau, apakah kita membayar pemeran pengganti untuk PDKT atau membangun hubungan romantis dengan pasangan kita hanya karena kita rasa waktu kita tidak cukup untuk melakukan hal itu?

Wisata Kuliner.

Hmm, atau mungkinkah kita membayar pemeran pengganti untuk memakan hidangan fine-dining sedangkan kita hanya menantikan dia menceritakan rasa makanan tersebut kepada kita ?

BELANJA.

fashion-woman-cute-airport

Atau kita membiarkan seseorang yang tidak kita kenal untuk menghabiskan uang kita, hanya karena kita merasa kita gak mood untuk belanja?

Jika kita berkata tidak untuk hal-hal di atas, mengapa kita melakukan hal tersebut dalam kehidupan rohani kita? Tidak jarang kita menempatkan atau membayar pemeran pengganti untuk memenuhi kehidupan kerohanian kita.

Kita ‘membayar’ pengkotbah untuk berdoa bagi kita, kita membeli buku-buku dan kaset kotbah, kita berlangganan (dan ada pula yang membayar) untuk renungan harian, dsb. Tapi kita tidak mau membangun kehidupan rohani kita sendiri. Tidak sedikit saya mendengar jemaat yang berkata “ah, itu kan tugasnya pendeta / pemimpin rohani, bukan kita.”. Kita ‘membayar’ tempat ibadah untuk jadi ‘penghibur’ dan ‘perwakilan’ kita.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah membangun kehidupan rohani itu benar-benar tidak enak ya? Apakah berdoa itu sangatlah menjengkelkan dan merepotkan sehingga kita enggan melakukannya? Apakah ke tempat ibadah sebegitunya menghabiskan waktu? Apakah berkumpul dengan saudara seiman benar-benar membosankan ketimbang kita berkumpul untuk karaoke atau hangout di coffee shop?

Jika kita memang terasa sulit untuk hal tersebut, tolong jangan salahkan Tuhan kalau kita tidak dapat menjalani dan menerima hidup sesuai apa yang Tuhan inginkan. Saya khawatir jika ada banyak hal yang tidak kita dapatkan karena Tuhan memberikan itu semua kepada stuntman rohani kita. (wyn)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s